Beberapa tahun lalu, gue pernah kerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Dulu, kantor mereka tuh di salah satu gedung tinggi di Jalan Sudirman sana, dan berhubung gue tinggal di luar Jakarta, gue harus naik bus pagi-pagi.
Nah, pagi itu, pas gue mau berangkat, gue udah berasa ada yang aneh. Perut gue sakit banget, harus ke toilet berkali-kali. Ah… diare nih kayaknya. Tapi gue, dengan semangat budak corporate gue, tetap nekat berangkat. Dan gue sampai dua jam sebelum jam masuk lho. Selama satu jam pertama gue benar-benar menderita banget. Gue bolak-balik ke kamar mandi beberapa kali!
Akhirnya gue izin, dan gue pulang sebelum jam kerja mulai. Manajer gue waktu itu baik dan memaklumi, langsung minta gue istirahat aja di rumah. Lo bisa tebak nggak kenapa gue bisa kena diare?
Sakit perut | Sumber gambar: Tenor
Sehari sebelumnya, gue bersama rekan kerja yang lain, jajan di dekat kantor. Sebenarnya, gue tuh anak bekal. Jadi, nggak terlalu sering jajan biar sehat dan hemat. Walau begitu, kadang gue ikut mereka jajan, biasanya ada piscok, cireng, dan masih buanyak lagi.
Kali itu, gue untuk pertama kalinya coba beli minuman dari abang-abang Starling (Stabuckz Keliling). Susu cokelat itu rasanya enak, tapi kayak ada tambahan rasa air keran. Sampai sekarang, gue curiga sih, mungkin itu penyebab gue keracunan makanan (atau minuman) waktu itu.
Memangnya, sebenarnya apa sih keracunan makanan, penyebab, dampak, serta gimana cara mengatasinya? Yuk, kita bahas!
Apa Itu Keracunan Makanan?
WHO pakai istilah foodborne disease/foodborne illness dan menjelaskan bahwa penyakit ini dapat bersifat infeksius maupun toksik, akibat bakteri, virus, parasit, atau bahan kimia yang masuk melalui makanan. Nah, ini bedanya sifat infeksius (foodborne infection) dan toksik (foodborne intoxication).
| Foodborne infection | Foodborne intoxication | |
|---|---|---|
| Yang masuk lewat makanan | Mikroorganisme hidup | Racun/toksin |
| Setelah masuk tubuh | Mikroorganisme bisa menginfeksi tubuh | Toksin langsung memberikan efek |
| Contoh | Salmonella, beberapa jenis E. coli | toksin Staphylococcus aureus, Bacillus cereus |
Singkatnya, kalau infeksi itu yang tertelan adalah mikroorganisme hidup yang kemudian dapat berkembang dan menimbulkan penyakit. Sedangkan, kalau intoksinasi yang tertelan itu toksin (zat beracun) yang sudah terbentuk di makanan. Biar lebih jelas, kita bahas penyebab keracunan makanan ya.
Penyebab Keracunan Makanan
Terus, apa saja yang bisa membuat makanan menjadi berbahaya? Rupanya penyebab keracunan makanan itu ada banyak lho, bukan sekedar lalat yang numpang poop aja. Melainkan, ada bakteri, virus, parasit, toksin, bahan kimia, dan bahkan racun alami. Kita bahas satu per satu ya.
Bakteri
Bakteri dibahas paling pertama karena merupakan salah satu penyebab paling umum nih, apalagi bisa mencemari makanan sejak proses produksi, pengolahan, penyimpanan, hingga makanan disajikan. Setelah masuk ke dalam tubuh, beberapa jenis bakteri seperti Salmonella dan Campylobacter dapat berkembang biak dan menyebabkan infeksi berupa penyakit yang menimbulkan gejala seperti diare, sakit perut, dan demam (WHO,2026).
Toksin
Tapi, nggak semua bakteri bikin kita sakit dengan cara yang sama. Ada bakteri yang menghasilkan toksin di dalam makanan sebelum makanan tersebut dimakan. Misalnya, Staphylococcus aureus dapat menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan keracunan makanan. Jadi, dalam kasus seperti ini, yang menyebabkan kita sakit bukan hanya keberadaan bakterinya, melainkan toksin yang sudah terbentuk di makanan (Grispoldi et al., 2021; Rajkovic et al., 2020).
Virus
Virus dapat masuk ke makanan melalui air atau bahan pangan yang sudah terkontaminasi, maupun melalui tangan orang yang terinfeksi saat menyiapkan atau menyajikan makanan sehingga menyebabkan foodborne illness. Contohnya, norovirus dan hepatitis A virus (HAV). Norovirus dapat menyebabkan gastroenteritis, dengan gejala seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut. Sementara itu, hepatitis A menyerang hati dan dapat ditularkan ketika seseorang mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi virus (WHO, 2026; Nemes et al., 2023).
Menariknya, virus itu nggak seperti bakteri yang bisa berkembang biak sendiri di makanan. Jadi, virus mengontaminasi makanan dulu, melalui air atau tangan orang yang tercemar, lalu setelah masuk ke tubuh manusia, barulah virus bisa menggunakan sel hidup di dalam tubuh inangnya buat replikasi (Olaimat et al., 2024).
Terkait virus, lo bisa baca di artikel berikut ini.
Virus – Pengertian, Klasifikasi, Jenis, dan Penemuannya
Kalau ngomongin tentang virus, gue langsung keinget sama satu hal. Elo bisa nebak, nggak? Yap! nCoV atau yang lebih dikenal dengan Covid-19. Duh, siapa sih yang nggak tahu salah satu jenis virus tersebut? Simpelnya, keberadaan virus nCoV yang dimulai dari tahun 2019 di Wuhan, Cina, ini benar-benar mengubah kehidupan manusia,

Parasit
Selanjutnya, ada parasit yang hidup dengan memanfaatkan inangnya. Parasit bisa masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang tidak dimasak hingga matang, makanan yang terkontaminasi, atau air yang tercemar. Seperti yang disebutkan oleh Kabiraz et al. (2026), contoh parasit meliputi cacing pita (Taenia solium) dan protozoa seperti Toxoplasma gondii, Giardia, dan Cryptosporidium. Setelah masuk ke tubuh, parasit tertentu dapat bertahan atau berkembang dan menyebabkan infeksi. Btw, kalau lo mau tahu lebih lanjut soal cacing pita, bisa baca artikel di bawah ini ya.
Yuk, Kenalan Sama Platyhelminthes – Materi Biologi Kelas 10
Artikel ini akan membahas tentang filum Platyhelminthes, mulai dari pengertiannya, ciri-ciri, hingga klasifikasinya. Hi, guys! Kamu pernah dengar tentang cacing pipih atau cacing pita gak? Pasti pernah mendengarnya ’kan? Tapi, mungkin masih banyak yang belum terlalu paham tentang siapa sebenarnya cacing pita itu dan seperti apa bentuknya. Ternyata, cacing pita

Bahan Kimia
Selain tiga penyebab tadi, keracunan makanan juga bisa disebabkan oleh kontaminasi bahan kimia tertentu lho. Misalnya, residu pestisida, logam berat seperti timbal dan merkuri, serta bahan kimia tertentu yang terbentuk selama proses pengolahan makanan (WHO, 2026). Bahan kimia ini bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan manusia serius lho, sudah ada berbagai kasusnya.
Dulu di Amerika pada tahun 1985, pernah terjadi wabah keracunan makanan akibat aldicarb (semacam pestisida golongan karbamat) yang mencemari semangka. Gara-gara itu, tercatat 1.376 orang sakit dan 17 orang dirawat di rumah sakit di California. Mereka bukan sekedar mules aja, namun bahkan ada yang mengalami mual, muntah, gangguan saraf, berkeringan, dan kelemahan otot.
Indonesia pun juga tidak luput dari kasus keracunan makanan akibat bahan kimia. Berdasarkan data BPOM yang dikutip oleh Iskandar et al. (2025), pada 2023 terdapat 19 wabah keracunan makanan di Kabupaten Bantul yang disebabkan oleh bahan kimia, termasuk histamin, sianida, arsenik, dan timbal.
Racun Alami
Terakhir, ada racun alami yang memang secara alami terdapat pada bahan pangan tertentu. Ini beda ya dengan kontaminasi bahan kimia. Zat ini bukan dari pencemaran, melainkan memang secara alami terdapat pada tumbuhan, jamur, maupun organisme laut tertentu. Menurut keterangan Choudhary & Dhewa (2025), jika dikonsumsi dalam jumlah tertentu, zat tersebut dapat menyebabkan keracunan. Waduh … emangnya apa aja ya bahan pangan yang mengandung racun alami?
Salah satu contohnya adalah singkong. Di Indonesia, singkong itu udah jadi makanan sehari-hari banget, mulai dari keripik singkong, tape, singkong keju, combro, getuk, dan masih buanyak lagi. Siapa sangka, bahan pangan yang populer banget ini ternyata beracun ketika masih mentah, karena mengandung senyawa cyanogenic glycosides. Ketika senyawa ini terurai, dapat terbentuk hidrogen sianida (HCN) yang bersifat beracun. Makanya, seperti yang dibahas pada laporan Tahir et al (2024), kita perlu detoksifikasi singkong dengan melakukan pengolahan seperti perendaman, penghancuran, perebusan, pengeringan, dan fermentasi yang bisa mengurangi kandungan sianida.
Ciri-Ciri Keracunan Makanan
Oke, kita sekarang sudah tahu beberapa penyebab keracunan makanan. Nah, sekarang kita cari tahu ya apa aja sih ciri-ciri atau gejala yang menandakan kalau kita tuh beneran terkena atau sedang mengalami food poisoning supaya makin waspada. Berdasarkan berbagai sumber yang gue rangkum, ini beberapa contoh ciri-ciri keracunan makanan tergantung dari penyebabnya.
| Penyebab | Contoh | Gejala yang umum |
|---|---|---|
| Bakteri | Salmonella | Diare, demam, kram perut, muntah |
| E. coli (STEC) | Kram perut berat, diare yang bisa berdarah, muntah | |
| Campylobacter | Diare (sering kali berdarah), demam, kram perut | |
| Staphylococcus aureus | Mual, muntah, kram perut, diare | |
| Virus | Norovirus | Diare, muntah, mual, sakit perut; bisa disertai demam/sakit kepala |
| Hepatitis A | Mual, demam, nyeri perut; dapat berkembang menjadi penyakit hati dan jaundice | |
| Parasit | Giardia | Diare, kram/perut tidak nyaman, kembung, gas, mual |
| Cryptosporidium | Diare, sakit perut/kram, mual, muntah, demam | |
| Toksin bakteri | Clostridium botulinum | Lemas, pandangan kabur/ganda, sulit menelan atau bicara; dapat berkembang menjadi kelumpuhan |
| Toksin alami | Mycotoxin/aflatoxin | Efeknya sangat tergantung toksinnya; paparan aflatoxin terutama berkaitan dengan kerusakan hati dan risiko kanker dalam jangka panjang |
| Bahan kimia | Pestisida tertentu | Bisa berupa mual, muntah, pusing, lemas, gangguan saraf, atau gejala lain tergantung jenis bahan kimianya |
Nah dari gejala-gejala tersebut, salah satu efek keracunan makanan yang paling umum adalah dehidrasi, atau dengan kata lain kekurangan cairan. Ya bayangin aja, lo udah muntah-muntah, terus bolak-balik ke toilet karena diare, tentunya cairan yang keluar kan lumayan.
Diagnosa Keracunan Makanan
Hmm, melihat gejala dan dampak tadi, sebenarnya kadang agak mirip ya dengan banyak penyakit lain. Terus, gimana dokter bisa tahu kalau seseorang benar-benar keracunan makanan?
Kalau berdasarkan panduan National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (2019), dokter bisa menganalisis kemungkinan penyebab dengan melakukan wawancara, pemeriksaan fisik, serta pengecekan laboratorium.
- Melalui wawancara, dokter bisa mengetahui riwayat makanan dan kesehatan, waktu munculnya gejala,
- Melalui pemeriksaan fisik, dokter bisa mengecek tekanan darah, denyut nadi, nyeri pada bagian tubuh, kondisi mulut dan lidah kering, dan lain-lain.
- Melalui laboratorium, dapat dilakukan tes feses (tinja) dan tes darah untuk mendeteksi bakteri, virus, parasit, atau tanda infeksi lainnya.
Cara Mengatasi Keracunan Makanan
Sebenarnya, sebagian besar kasus keracunan makanan itu bisa sembuh sendiri. Jadi, kalau lo udah ngerasa kayaknya ada kemungkinan salah makan dan mau atasi itu, berikut langkah yang bisa lo ambil.
- Pertama, yang paling penting, lo harus rehidrasi, alias minum yang cukup untuk menggantikan cairan yang keluar akibat mutah dan diare.
- Kedua, lo harus tetap makan. Walau mungkin awalnya masih trauma dan jadi mager makan, kita harus tetap menjaga gizi tubuh.
- Ketiga, jangan buru-buru ngide minum obat sendiri, apalagi antibiotik. Soalnya, penyebab keracunan makanan ini kan ada banyak, jadi obatnya itu tergantung penyebab dan tingkat keparahannya.
- Keempat, lo harus tahu kapan harus ke dokter. CDC menyarakan untuk mencari pertolongan medis (at least konsultasi) jika mengalami diare berdarah, diare lebih dari tiga hari, demam tinggi (lebih dari sekitar 39°C), muntah terus-menerus sampai tidak bisa mempertahankan cairan, atau tanda-tanda dehidrasi seperti jarang buang air kecil, mulut kering, dan pusing ketika berdiri.
Keracunan pada Anak dan Dewasa
Baik anak-anak maupun orang dewasa semuanya bisa menderita keracunan. Yang perlu diperhatikan, berdasarkan artikel WHO (2026) yang berjudul “Unsafe food causes 866 million illnesses and 1.5 million deaths annually, young children at highest risk”anak di bawah 5 tahun itu risiko sakit akibat makanan yang tidak aman itu 3x lebih rentan dibangding anak yang lebih besar dan orang dewasa. Bayangin aja, populasi mereka tuh cuma sekitar 9% dunia namun diperkirakan menyumbang hampir sepertiga kasus foodborne disease lho.
Di Indonesia, suatu penelitian di Yogyakarta juga menunjukkan bahwa anak bisa jadi memang merupakan kelompok yang paling besar mengalami kejadian luar biasa keracunan pangan. Penelitian ini melihat kasus-kasus dalam rentang 19 tahun dan menemukan bahwa anak-anak di bawah 19 tahun menyumbang 60% dari 2.213 kasus yang memiliki informasi usia. Sedangkan, orang dewasa usia 18-59 tahun tercatat sebesar 33,6%. Namun, ada disclaimer ya, hasil dari penelitian ini belum tentu tepat karena hanya 25,80% dari 8563 kasus keracunan makanan yang memiliki data usia. Walau begitu, sampel tersebut dapat setidaknya memberi gambaran untuk kita semua.
So… itu dia pembahasan seputar keracunan makanan yang disebut juga foodborne ilness atau food poisoning. Semoga kedepannya kita bisa lebih waspada dengan penyebab-penyebabnya dan kalaupun amit-amit terkena, bisa mengenali gejala dan mengatasinya. Stay safe, stay healthy Sobat Zenius!
Inilah 3 Manfaat Sarapan Untuk Persiapan Sekolah
Artikel ini membahas beberapa manfaat sarapan untuk persiapan sekolah, pembahasan mitos seputar sarapan, serta rekomendasi makanan sarapan pagi untuk dikonsumsi dan dihindari berdasarkan penelitian. Halo sobat Zenius. Gimana kabar kalian? Udah siap belum buat kembali ke sekolah? Untuk menyambut masa Back To School(BTS), gue bakal membahas tentang manfaat sarapan

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention. (2025, November 24). Food poisoning symptoms.
Centers for Disease Control and Prevention. (2026, March 9). Food safety basics. Centers for Disease Control and Prevention
Goldman LR, Smith DF, Neutra RR, Saunders LD, Pond EM, Stratton J, Waller K, Jackson RJ, Kizer KW. Pesticide food poisoning from contaminated watermelons in California, 1985. Arch Environ Health. 1990 Jul-Aug;45(4):229-36. doi: 10.1080/00039896.1990.9940807. PMID: 2400245.
Grispoldi, L., Karama, M., Armani, A., Hadjicharalambous, C., & Cenci-Goga, B. T. (2021). Staphylococcus aureus enterotoxin in food of animal origin and staphylococcal food poisoning risk assessment from farm to table. Italian Journal of Animal Science, 20(1), 677–690.
Iskandar, A., et al. (2025). E. coli-caused foodborne outbreak in Bantul Regency, Indonesia, 2023: A retrospective cohort study. The Open Public Health Journal, 18.
Kabiraz, M. P., Majumdar, P. R., Mahmud, M. M. C., Bhowmik, S., & Ali, A. (2023). Conventional and advanced detection techniques of foodborne pathogens: A comprehensive review. Heliyon, 9(4), e15482.
Kabiraz, M.P., Majumdar, P.R. & Bhowmik, S. Foodborne Parasites: Current Insights and Perspectives. Curr Clin Micro Rpt 13, 4 (2026).
Nemes, K., Persson, S., & Simonsson, M. (2023). Hepatitis A virus and hepatitis E virus as food- and waterborne pathogens—Transmission routes and methods for detection in food. Viruses, 15(8), 1725.
Olaimat, A. N., Taybeh, A. O., Al-Nabulsi, A., Al-Holy, M., Hatmal, M. M., Alzyoud, J., Aolymat, I., Abughoush, M. H., Shahbaz, H., Alzyoud, A., Osaili, T., Ayyash, M., Coombs, K. M., & Holley, R. (2024). Common and Potential Emerging Foodborne Viruses: A Comprehensive Review. Life, 14(2), 190.
Rajkovic, A., Jovanovic, J., Monteiro, S., et al. (2020). Detection of toxins involved in foodborne diseases caused by Gram-positive bacteria. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety, 19(4), 1605–1657.
Tahir, F., Ali, E., Hassan, S. A., Bhat, Z. F., Walayat, N., Nawaz, A., Khaneghah, A. M., Phimolsiripol, Y., Khan, M. R., & Aadil, R. M. (2024). Cyanogenic glucosides in plant-based foods: Occurrence, detection methods, and detoxification strategies – A comprehensive review. Microchemical Journal, 199, 110065.
World Health Organization. (2008). Foodborne disease outbreaks: Guidelines for investigation and control. World Health Organization.
World Health Organization. (2019, December 23). Foodborne diseases: Global burden.
World Health Organization. (2026, June 4). Unsafe food causes 866 million illnesses and 1.5 million deaths annually, young children at highest risk.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.