Di tengah ketegangan karhutla (kebakaran hutan dan lahan) di Indonesia, ada suatu perkataan temen gue yang terus terngiang-ngiang di kepala gue:
Api karhutla tuh sulit dipadamin, apalagi di Kalimantan gitu, soalnya apinya di dalem tanah…nggak keliatan dan susah deh lahan gambut. Kalo padam pun, nanti juga ada muncul lagi.
Otak gue langsung bertanya-tanya denger itu. Itu bener nggak sih? Kok bisa api ngumpet di dalam tanah, dan kenapa api bisa muncul lagi setelah kebakaran terlihat padam? Terus kalo sesulit itu padam, gimana dong cara memadamkan api yang berada di bawah tanah laham gambut? Apa cuma bisa pasrah aja?
Sebenarnya, beberapa tahun yang lalu, Zenius blog udah pernah bahas berbagai faktor yang menyebabkan dan memperparah karhutla di Indonesia, termasuk fenomena lahan gambut. Nah, kali ini gue mau ngajak lo buat lihat lebih dekat apa yang sebenarnya terjadi pada kebakaran lahan gambut. Karena ternyata, tipe kebakaran ini tuh nggak mudah padam dan memang bisa “kembali lagi” gitu.
Gimana tuh maksudnya? Nah, yuk kita bahas gimana sih kebakaran lahan gambut, kenapa api bisa menyala di bawah tanah, dan kenapa api bisa muncul lagi setelah kebakaran terlihat padam.
Kebakaran Lahan Gambut
Sebelum kita bahas lebih dalam, kita harus tahu dulu nih apa itu lahan gambut. Lo pernah nggak denger sebutan “tanah basah” atau “tanah hitam”? Sebenarnya, kalau sekedar sebutan gini suka bikin bingung sih, karena tanah itu banyak banget jenisnya, dan yang basah maupun hitam tuh juga banyak!
Tapi, memang beberapa orang dan bahkan petani itu ada yang sebut tanah lahan gambut sebagai tanah basah atau tanah hitam. Namun, sesuai informasi dari lembaga BRIN (2024), ternyata tanah gambut itu nggak termasuk tanah hitam, lho!
Soalnya, menurut sains, tanah hitam asli tuh merupakan tanah mineral yang subur, sedangkan gambut itu tanah organik dari pembusukan rawa yang asam gitu. Hmm, emangnya apa aja sih ciri-ciri tanah lahan gambut? Coba lihat gambar di bawah ini deh.
Oke, sekarang kita bahas ciri-ciri tanah gambut satu per satu.
Gambut itu sebenarnya beda dengan tanah mineral yang umumnya tersusun dari material hasil pelapukan batuan (seperti pasir, debu, dan liat) . Gambut berasal dari sisa tumbuhan yang sudah menumpuk dalam waktu yang sangat lama, bahkan ribuan tahun.
2. Menyimpan cadangan karbon dalam jumlah sangat besar
Nah, lingkungan seperti itu jenuh air dan miskin oksigen. Jenuh air itu maksudnya ruang di antara material gambut tuh terisi banyak air. Jadi bisa kebayang betapa minimnya oksigen yang tersedia untuk proses penguaraian. Nggak heran deh pembusukannya lambat dan bahan organik di situ nggak terurai sempurna. Sehingga, material tumbuhan tetap menumpuk terus dan membentuk lapisan gambut.
3. Berwarna gelap, lunak, dan berserat
Secara fisik, tanah gambut yang lunak ini punya warna gelap yang khas, biasanya cokelat tua hingga hitam pekat. Warna itu berasal dari sisa tumbuhan yang terakumulasi dan tertumpuk, yang kemudian mengalami penguraian dan menghasilkan senyawa-senyawa humat (humic substances).
Semakin banyak bahan organik yang terakumulasi dan mengalami proses penguraian, warna gambut bisa semakin gelap. Jadi, warna gelap ini tuh bisa jadi petunjuk bahwa tanah ini kaya akan bahan organik.
4. Mampu menyerap banyak air dan bersifat asam (pH rendah)
Tanah gambut tuh rada bersifat asam (pH rendah) dan berair banget. Soalnya, strukturnya berpori dan banyak ruang kosong di antara material organiknya. Situasi ini memungkinan gambut secara alami menyerap dan menyimpan air dalam jumlah besar.
Jadi, tanah ini biasanya sangat basah dan sebenarnya sulit terbakar. Lantas, kok bisa lahan gambut terbakar?
Ini ada hubungan dengan manusia dan situasi alam. Sebenarnya, apakah karhutla itu terjadi tiba-tiba dengan sendirinya di lahan tanah gambut? Kan tanahnya basah? Oke, secara alami, di Indonesia memang ada musim kemarau, yang bahkan dapat terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Ini bisa mengeringkan gambut dan membuatnya jauh lebih mudah terbakar. Dalam keadaan itu, pemicu kebakaran seperti aktivitas manusia maupun sumber alami seperti petir mungkin bisa menyebabkan terjadinya karhutla.
Masalahnya, berdasarkan beberapa informasi dari detikEdu, rilis pers WALHI, dan kajian akademis FPIPS UPI, ternyata ada oknum atau bukti aktivitas manusia yang memang sengaja mengeringkan dan membakar lahan gambut.
Mereka membangun kanal untuk mengalirkan air jenuh di sana ke tempat lain. Bisa dibayangkan ya, kalau memang dengan kesengajaan dikeringkan seperti itu, ditambah lagi ada musim kemarau, apa nggak kering buanget lahan gambut itu? Yang tadinya sulit terbakar, malah jadi bahan bakar. Waduh … bahaya nih. Kenapa sih manusia bisa nekat banget mengeringkan lahan gambut?
Ini tuh bukan kasus baru ya, bahkan di tahun 2015 aja, melalui ANTARA Jambi, Manager Humas Infokom KKI Warsi, Rudi Syaf, sempat menjelaskan bahwa perusahaan membuat sistem kanalisasi dengan maksud untuk membangun infrastruktur sarana transportasi dan distribusi. Selain itu, kanalisasi ini juga mengatur muka air tanah gambut yang basah banget dan tergenang, sehingga yang tadinya nggak bisa dimanfaatkan untuk lahan pertanian, jadi bisa digunakan untuk budidaya tanaman tertentu.
Singkatnya, sebenarnya pembuatan kanal tuh ada manfaatnya buat manusia juga, seperti membantu pengadaan akses transportasi di wilayah tersebut dan mengadakan lahan produktif untuk pertanian.
Namun … kanalisasi yang mengeringkan lahan gambut ini ternyata nggak hanya meningkatkan resiko kebakaran hutan, melainkan juga memicu dampak buruk lainnya seperti penurunan permukaan tanah dan peningkatan emisi karbon (efek rumah kaca) lho. Terus, yang bikin lebih deg-degan, api di lahan gambut tuh bukan api biasa, tapi bisa bertahan tersembunyi di bawah tanah gambut lho. Kok bisa?!
Kenapa Api Bisa Menyala di Bawah Tanah Gambut
Oke, kita pastikan dulu ya kita semua paham bahwa gambut adalah tumpukan bahan organik yang secara alami basah namun bisa kering setelah airnya dikurangi, seperti lewat kanalisasi tadi.
Nah, ketika dalam keadaan kering dan bagian atasnya terbakar, panas dari api bisa memicu kebakaran pada lapisan gambut di bawah juga. Tapi, jangan bayangin api unggun di dalam tanah gitu, ya. Api ini nggak selalu muncul sebagai kobaran besar, bisa perlahan seperti bara yang membara gitu… dan ini terus merambat ke lapisan gambut lainnya.
Sekarang, coba deh liat satu setengah menit pertama dari video SINDOnews di bawah ini.
Sumber: SINDOnews
Nah, itu dia gambaran tentang gimana pembakaran membara (smouldering) pada gambut. Pembakaran ini tuh terjadinya di dalam lapisan gambut, sehingga nggak langsung keliatan dari permukaan. Jadi, bisa aja ada api besar sudah dipadamkan, dan yang terlihat hanya tanah hitam dengan asap. Padahal, sebenarnya masih ada baranya di bagian bawahnya.
Nih, coba deh liat visual dari jurnal tentang transisi bara membara dan api berkobar (Santoso et al., 2019) di bawah ini.

Makin terlihat jelas ya, api berkobar (flaming) itu terlihat banget jelas di bagian atas tanah. Kemudian, flaming bisa memicu pembakaran pada lapisan organik di bawahnya, lanjut terus makin ke lapisan dalam. Nah, api yang di dalam itu bentuknya membara (smouldering), yang pembakarannya lambat, suhunya lebih rendah (sekitar 450–700°C), dan nggak keliatan nyala apinya.
Yang bikin kaget, berdasarkan laporan Santoso et al. (2019) yang membahas kebakaran gambut di Indonesia tahun 1997, smouldering combustion ini bisa mengonsumsi tanah organik sampai 51 ± 5 cm ke dalam tanah lho. Artinya, rata-rata baranya mencapai rata-rata kedalaman 51cm, dengan kurang lebih atau ketidakpastian 5cm.
Serem banget, bisa sampai setengah meter lapisan gambut di bawah permukaan yang ikut terbakar. Makanya, itu kenapa api bisa muncul lagi setelah kebakaran terlihat padam, karena sebenarnya memang belum padam betul!
Baca juga artikel 🔗 Kenapa Warna Api Bisa Merah, Jingga, Kuning, dan Biru?
Cara Memadamkan Api yang Berada di Bawah Tanah Lahan Gambut
Lantas, gimana dong cara padamkan api yang “bersembunyi” di dalam tanah ini? Apakah mungkin, berita tentang tepung atau pati ubi dan singkong yang bisa digunakan untuk memadamkan kebakaran hutan benar-benar merupakan jurus efektif yang bisa menyelesaikan kebakaran hutan alias karhutla? Atau kita tetap hanya bisa bergantung pada efektivitas air?
Jawabannya…
1. Menggunakan “ubi bombing”
Ternyata seperti yang telah dibahas pada artikel UNESA, penggunaan bahan berbasis singkong untuk memadamkan kebabaran hutan atau “ubi bombing” ini ternyata memang memiliki landasan ilmiah. Inovasi ini awalnya dimulai dari temuan anggota Babinsa di Lubuklinggau, Sumatera Selatan.
Walau ada potensinya, inovasi ini masih butuh penelitian lebih lanjut untuk penggunaan dan efektivitasnya. Singkong memang mengandung pati yang merupakan biopolimer yang tersusun utamanya atas amilosa dan amilopektin. Oleh karena itu, ketika diolah bersama air dan bahan tertentu, bisa menjadi material menyerupai gel gitu.
Jadi ini perlu dicatat, bahwa bukan berarti kita bisa langsung saja melempar atau menebar tepung tapioka ke area karhutla ya. Apalagi, ingat, pembakaran di karhutla pada lahan gambut itu bisa cukup dalam, kalau cuma asal memadamkan kobaran di bagian atas tanah, nggak cukup. Kesimpulannya, walau memang ada potensinya, inovasi “ubi bombing” ini masih memerlukan penelitan, pengujian, dan bukti lebih lanjut.
2. Kabut air atau water mist
Untuk metode pemadaman api karhutla di lahan gambut yang telah teruji, memang masih sangat erat dengan penggunaan air.
Contohnya, kabut air atau water mist, seperti yang dibahas oleh WARSTEK. Efektivitas metode ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tekananm ukuran tetesan air, dan densitas air. Berdasarkan pengujian, metode ini dapat menurutkan suhu gambut pada kedalaman 0-50mm selama 15 menit.
Hmm, ini berarti, metode kabut air memang bisa digunakan, namun ada tantangan untuk menggapai bara api tanah gambut yang lebih dalam. Selain itu, kebutuhan air untuk metode ini juga besar, sekitar 6 liter/kg gambut. Nah, gimana kalau dibandingkan dengan metode penggunaan busa untuk memadamkan api karhutla?
3. Menggunakan busa
Berdasarkan eksperimen Ratnasari dkk. (2018), penggunaan busa membutuhkan rata-rata sekitar 3,4 liter air per kilogram gambut dan lapisan busa yang lebih tebal dapat mempercepat pemadaman bara. Bedanya air dengan busa tuh, kalau air kan tadi mendinginkan gambut. Sedangkan, busa itu bisa dibilang menutup permukaan dan menghambat oksigen. Makanya, api padam.
Ingat, pembakaran termasuk smouldering butuh oksigen. Jadi kalau suplai oksigen dihambat, pembakaran bisa perlahan berhenti.
Oke, sejauh ini bisa disimpulkan ya, kebakaran hutan terutama di lahan gambut itu bisa smouldering sampai ke dalam, sehingga nggak mudah langsung padam begitu saja. Sejauh ini, material pemadaman seperti air dan busa sudah teruji bisa mendinginkan dan memadamkan api karhutla di lahan gambut itu.
Namun, pemadaman kebakaran gambut nggak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat di permukaan saja. Air atau busa perlu diarahkan hingga mencapai bagian gambut yang masih membara di bawah tanah. Soalnya, kalau hanya permukaannya yang basah atau tertutup busa, bagian gambut di bawahnya masih bisa menyimpan panas dan terus mengalami smouldering. Karena itu, proses pemadaman perlu dilakukan sampai suhu gambut benar-benar turun dan bara di dalamnya berhenti.
Berdasarkan situs penyedia peralatan dan proteksi untuk kebakaran, JBProteks, teknik pemadaman untuk api smouldering yang berada di bawah permukaan, dapat dilakukan injeksi air ke dalam gambut (water injection/peat injection). Jadi, air bukan cuma sekedar disemprotkan dari atas, melainkan dimasukkan langsung ke gambut yang membara.
Oke, itu dia contoh cara memadamkan api yang berada di bawah tanah lahan gambut. Menurut lo, apa lagi nih cara memadamkan api karhutla di lahan gambut? Coba share di kolom komentar ya!
Referensi:
Detikcom. (2026, September 10). Mengapa lahan gambut yang dikeringkan bisa memperparah kebakaran.
Farhan, M., Rahma, N. P., Aulia, G. A., Asyura, Y., & Zilvina, B. (2025). Kajian perbedaan morfologi tanah antara lahan gambut dan lahan mineral di Riau Timur. Psikosospen: Jurnal Psikososial dan Pendidikan, 1(2).
FPIPS UPI. (2026, September 12). Interaksi antropogenik dan fenomena El Nino dalam pemicuan kebakaran lahan gambut Kalimantan. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia.
Humas Badan Riset dan Inovasi Nasional. (2024, 14 Desember). Mengungkap definisi dan sebaran tanah hitam di Indonesia. BRIN.
JB Proteks. (2026). Cara memadamkan kebakaran lahan gambut secara efektif dan tuntas.
Maulidyah, F. (2024, 27 Januari). Pemadaman api pada lahan gambut: Air vs busa. Warstek.
Santoso MA, Christensen EG, Yang J and Rein G (2019) Review of the Transition From Smouldering to Flaming Combustion in Wildfires. Front. Mech. Eng. 5:49. doi: 10.3389/fmech.2019.00049
Universitas Negeri Surabaya. (2026, Agustus 26). Ubi bombing untuk karhutla: Bisakah tepung singkong benar-benar memadamkan api? S3 Pendidikan Sains UNESA.
WALHI Riau. (2026, April 2). Karhutla berulang di konsesi korporasi: 1.351 titik api ungkap kegagalan penegakan hukum.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.